Polres Tangsel Tangkap Pelaku Materai Rekondisi

0
76
wakapolres Tangsel menunjukan materai rekondisi

Polres Tangsel – Satuan reserse kriminal (Sat Reskrim) Polres Tangerang Selatan berhasil mengungkap perkara materai yang tanda sahnya atau tanda waktu mempergunakannya telah dihilangkan seolah olah materai asli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 KUHP.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kompol Didik Putra Kuncoro, S.IK (Wakapolres Tangsel) dalam konferensi pers di halaman Polres Tangerang Selatan, Rabu (16/10/2019) sore.

Dalam pengungkapan kasus materai rekondisi tersebut Sat Reskrim Polres Tangsel berhasil menangkap tersangka E (37 Tahun) yang berperan mencari bahan materai bekas pakai dari pengepul kemudian mengirim materai bekas pakai tersebut kepada tersangka DH untuk direkondisi dan tersangka DH (39 Tahun) yang berperan merekondisi materai bekas pakai menjadi materai yang seolah olah belum digunakan (materai baru).

Tersangka materai rekondisi E dan DH

“berdasarkan informasi dari masyarakat sat Reskrim Polres Tangsel berhasil menangkap kedua pelaku di Ruko wilayah kecamatan Setu Kec. Setu Kota Tangerang Selatan dan Jl. Madnurjampang Parung Bogor”terang Kompol Didik Putra Kuncoro.

“Modus operandi yang dilakukan pelaku adalah mendaur ulang atau merekondisi Materai yang sudah digunakan yang terdapat tanda tangan atau tanda cap menjadi materai baru dengan cara direkondisi atau dihilangkan tanda tangan ataupun cap yang tertera pada materai bekas”lanjutnya.

Dalam kasus tersebut Sat Reskrim Polres Tangsel mengamankan barang bukti diantaranya 300 (tiga ratus) Materai bekas yang sudah direkondisi menjadi materai baru, 1 (satu) Botol Kaporit, 1 (satu) box kecil lem fox, 1 (satu) botol larutan yang berisi cuka makan, 1 (satu) baskom tempat wadah, 1 (satu) botol spirtus, 1 (satu) buah lidi dibungkus kapas, 1 (satu) buah keramik warna putih, 1 (satu) buah sisa kapas dan 1 (satu) dus materai bahan / materai bekas pakai (3000 buah)

Terhadap kedua tersangka sendiri dikenakan dengan Pasal 260 ayat 1 (1e) dan (2e) KUHP dan atau pasal 260 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama lamanya 4 (empat) tahun.