Masalah Kegiatan Umat di Rumah Biksu yang Diprotes Warga Legok sudah Selesai

0
199

Tribrata News Tangsel – Keberadaan Biksu Mulyanto Nurhalim ditolak Warga Kebon Baru RT. 001 RW. 001 Desa. Babat Kec. Legok Kabupaten Tangerang karena diangkap menyalahgunakan fungsi tempat tinggal untuk ibadah.

Sehubungan tersebut Muspika Kecamatan Legok, melakukan musyawarah untuk menyelesaikan permasalah dengan cara yang tepat dan cepat. Berawal dari rumah tinggal Biksu Mulyanto Nurhalim yang sering dikunjungi umat Buddha dari luar Kecamatan Legok, yang memberikan makan kepada biksu dan minta untuk didoakan, bukan kegiatan ibadah.

Kapolsek Legok AKP Murodih menrangkan awal mula permasalahan pada Minggu (4/2/2018) di rumah tinggal Biksu Mulyanto diadakan bakti sosial umat Buddha. “Tidak dibenarkan jika ada kegiatan ibadah. Rumah Biksu Mulyanto Nurhalim sebagai tempat tinggal bukan kegiatan ibadah. Dikembalikan fungsi sesuai izin tempat tinggal, jangan dijadikan tempat ibadah.” kata Murodih.

Pihaknya menyampikan untuk kegiatan agama maupun kegiatan hiburan, agar disampaikan kepada pihak kepolisian setempat. “Kita sama-sama menjaga lingkungan kamtibmas yang baik. Selayaknya kepada Romo jika ada kunjungan ke rumah Biksu Mulyanto Nurhalim, setidaknya ada pemberitahuan jika tamu melebihi 1×24 jam” ucap Murodih.

Kades Babat, Sukron Ma’mun, menyampaikan masyarakat di daerahnya hidup rukun dan berdampingan. “Perlu diketahui, kami warga Babat dari dulu selalu tidak ada masalah. Kami hidup saling bertoleransi antar pemeluk agama. Permasalahan terjadi, pada awal 2010 tanah yang dihuni oleh biksu saat itu dibeli untuk dibangun rumah, bukan tempat ibadah.” kata Sukron.

Sementara itu, Romo Kartika, sebagai pemuka agama Buddha, mengakui bahwa yang dilakukan rekan-rekannya akibat kurangnya pemahaman. Meski demikian, menampik bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Mulyanto Nurhalim adalah kegiatan keagamaan. “Kegiatan hari Minggu, dengan datangnya tamu dari luar, bukan kegiatan ibadah, hanya datang memberi bekal makan dan biksu mendoakan mereka.” kata Romo Kartika.

Ketua MUI Legok, Odji Madroji menuturkan di Desa Babat sering terjadi adanya rumah tempat tinggal yang lama-kelamaan jemaah menjadi banyak kemudian dibangun tempat ibadah. “Kami khawatir jika tempat Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat, dijadikan tempat syi’ar umat Buddha. Tidak ada masalah jika hanya tempat tinggal bukan sebagai tempat ibadah, masyarakat Babat sangat akan bisa menerima,” tuturnya.

Camat Legok, Nurhalim mengatakan jika ada kegiatan keagamaan sebaiknya dilakukan di wihara. “Masyarakat Desa Babat tidak keberatan kalau hanya dijadikan tempat tinggal. Silakan mencari wihara untuk lakukan kegiatan ibadah. Jika ada kegiatan, tolong disampaikan dan dikoordinasikan dengan aparat setempat dan tokoh sekitar serta pihak keamanan sehingga tudak menimbulkan kecurigaan masyarakat .” kata Nurhalim